Thursday, March 30, 2006

lihat2 taktiknya ...Cleveland's "Flying High" Open Set


jitu mana????
LeBron James and the Cleveland Cavaliers are in the thick of the Eastern Conference playoff race. James has done it all this season including the Cavaliers' recent surge. The return of Larry Hughes could provide the boost for a needed for a deep playoff run.

The Play
The Cavaliers like to space the floor and allow LeBron James (23) to create immediately following transition.

Here, James takes the ball to the left side of the floor. Aleksander Pavlovic (3) and Donyell Marshall (24) move to the corner. Zydrunas Ilgauskas (11) and Damon Jones (19) locate near the three-point line.

Z sets a high screen for LeBron once the floor is spread. LeBron uses the screen and attacks the lane. The entire defense collapses on James.

Now, James is in the lane and has plenty of options. He can pass or drive.

Monday, March 27, 2006

Go to bed married, wake up divorced...


Mon Mar 27, 12:31 PM ET

A Muslim couple in India has been told by local Islamic leaders they must separate after the husband "divorced" his wife in his sleep, the Press Trust of India reported.

Sohela Ansari told friends that her husband Aftab had uttered the word "talaq," or divorce, three times in his sleep, according to the report published in newspapers Monday.

When local Islamic leaders got to hear, they said Aftab's words constituted a divorce under an Islamic procedure known as "triple talaq." The couple, married for 11 years with three children, were told they had to split.

The religious leaders ruled that if the couple wanted to remarry they would have to wait at least 100 days. Sohela would also have to spend a night with another man and be divorced by him in turn.

The couple, who live in the eastern state of West Bengal, have refused to obey the order and the issue has been referred to a local family counseling center.

India's minority Muslim population is governed by Islamic personal laws on issues such as marriage, divorce and property inheritance.

"This is a totally unnecessary controversy and the local 'community leaders' or whosoever has said it are totally ignorant of Islamic law," said Zafarul-Islam Khan, an Islamic scholar and editor of The Milli Gazette, a popular Muslim newspaper.

"The law clearly says any action under compulsion or in a state of intoxication has no effect. The case of someone uttering something while asleep falls under this category and will have no impact whatsoever," Khan told Reuters.

Pokoke gak ada kaitannya dengan RUU APP
Murni lintas kawat aja..


Mon Mar 27, 12:31 PM ET

A Muslim couple in India has been told by local Islamic leaders they must separate after the husband "divorced" his wife in his sleep, the Press Trust of India reported.

Sohela Ansari told friends that her husband Aftab had uttered the word "talaq," or divorce, three times in his sleep, according to the report published in newspapers Monday.

When local Islamic leaders got to hear, they said Aftab's words constituted a divorce under an Islamic procedure known as "triple talaq." The couple, married for 11 years with three children, were told they had to split.

The religious leaders ruled that if the couple wanted to remarry they would have to wait at least 100 days. Sohela would also have to spend a night with another man and be divorced by him in turn.

The couple, who live in the eastern state of West Bengal, have refused to obey the order and the issue has been referred to a local family counseling center.

India's minority Muslim population is governed by Islamic personal laws on issues such as marriage, divorce and property inheritance.

"This is a totally unnecessary controversy and the local 'community leaders' or whosoever has said it are totally ignorant of Islamic law," said Zafarul-Islam Khan, an Islamic scholar and editor of The Milli Gazette, a popular Muslim newspaper.

"The law clearly says any action under compulsion or in a state of intoxication has no effect. The case of someone uttering something while asleep falls under this category and will have no impact whatsoever," Khan told Reuters.

Thursday, March 09, 2006

Debat RUU APP di milis yang carut marut

Menjelang pembahasan mengenai RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi di DPR, Aksi pro kontra yang terjadi semakin keras, mulai dari aksi demo jalan hingga ke Internet, selain petisi online juga di Milis.
Demikian saya kutip dari tanggapan reporter jalanan yang anatar lain :


"Debat RUU APP di milis yang carut marut", itulah inti dari artikel yang
dimuat Harian Republika edisi hari ini (Kamis, 8 Maret 2006). Walau tak
disebut dengan jelas, sudah pasti milis yang dimaksud adalah MediaCare. Sedangkan inisial HAA yang dipuji Republika sebagai sosok berpikiran positif adalah Haji Asan Aji, tak lain wartawan Republika yang ngepos di Malang. L yang disebut sebagai lawan debat HAA adalah Muhammad Latief, redaktur Majalah MATRA.

Menurut penilaian Republika, polemik yang terjadi di milis Mediacare
tambah carut marut dengan menyinggung soal koteka orang Papua, terpuruknya pariwisata Bali dan pengkambing hitaman Islam yang dituding ingin memaksakan kehendak, Islam yang ingin menerapkan budaya yang tak Ngindonesia.

Intinya, orang-orang yang menentang RUU APP itu, walau berpendidikan, sayangnya punya hati dan pikiran yang tak sehat dan tak waras. Republika juga menuding mereka yang tak setuju RUU APP telah berkolaborasi dengan Barat.

Silakan simak artikelnya...ada di bawah.

Salam Anti RUU APP (dan dukung RUU Anti Wahabisasi disegala bidang),

ReJa
muslim sejati anti pemasungan kebebasan berkreasi/anti pembelengguan kaum perempuan/anti penghilangan budaya asli yang berslogan "Islam Yes, Wahabisasi No!"

Catatan kaki:
Sedih, Republika kok sama sekali tak memuat demo kaum perempuan yang berlangsung kemarin ya? Secuil foto pun tidak. Padahal ada Dian Sastro, Aline, Olga Lydia dan ratusan kaum perempuan pilihan bangsa yang sudi berpanas-panas ria segala lho....

Sedangkan demo HTI yang ingin mendirikan kekhalifahan Islam kok malah dimuat besar-besaran? Bukankah itu artinya Republika setuju 100% pada gerakan-gerakan - baik yang terang-terangan maupun terselubung - yang ingin mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi berbasiskan teokrasi dan beraliran Wahabi yang amat-amat konservatif? Bukankah itu melanggar UUD 45? Sungguh mengerikan! Ada apa dengan Cinta? Maaf, ada apa dengan Republika yang tak cinta pada budaya bangsanya sendiri, tapi lebih mencintai budaya gurun pasir yang amat kering kerontang?

__________________________________________________________________

Debat di internet

Dalam dua hari (6-7 Maret 2006), setidaknya 75 e-mail dalam satu grup
surat elektronik (mailing list/milis) berdebat tentang RUU APP. Beberapa
anggotanya, juga mendistribusikan polemik tersebut ke sejumlah milis
lain di ruang maya internet.

Mungkin, perdebatan bermula dari definisi pornografi dan pornoaksi.
Tak butuh waktu lama, Islam dan Arab menjadi kambing hitam. Agama yang dianut mayoritas rakyat negeri ini dituding memaksakan kehendak, dengan menerapkan kebudayaan yang dianggap tak Ngindonesia.

Polemik tambah carut-marut. Misalnya, pemberlakuan RUU ini akan membuat orang Papua yang masih berkoteka dipaksa memakai pakaian 'normal' atau pariwisata di Pulau Bali harus ditutup.

Tapi, banyak juga yang berpikiran positif. Ketika menyinggung masalah Papua dan Koteka, seorang penulis e-mail dengan inisial HAA menulis: "L, saya malah kasihan sama Anda. Sebab, Anda termasuk orang yang mau mempertahankan ketidakberdayaan dan kemiskinan orang Papua dengan berlindung di balik 'tradisi' atau 'adat'."

Modal dialog

Sebenarnya seperti apa isi RUU APP? Apakah melarang orang Papua
berkoteka dan melarang wisatawan asing berbikini di pantai Bali? Atau, lebih ekstrem lagi, menyuruh semua perempuan di Indonesia menutup seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki?

Jangan-jangan, kebanyakan sama-sama awam, belum membaca draf RUU itu, atau punya semangat - sebaik apapun isinya - harus ditebas. Bisa jadi, seperti banyak ditulis di mailing list, ada celah dan kelemahan pendefinisian RUU APP. Tapi yakinlah, seperti selalu ditegaskan Pansus RUU APP, sasarannya bukan saudara kita di Papua yang masih mengenakan koteka atau masyarakat Bali yang masih terbiasa mandi bersama-sama di kali.

Seorang pendengar radio ikut dalam sebuah perdebatan. Ia mengatakan bahwa yang dibutuhkan bangsa ini adalah pendidikan yang benar, termasuk pendidikan agama. Jika itu sudah berhasil, banyak dari perdebatan ini tak perlu didengungkan, saling mencaci, dan apriori.

Berbagai saluran media massa pun tak mungkin didominasi suara
minoritas - yang menganiaya sendiri supaya tampak tertindas - yang
menentang dihapuskannya pornografi dan pornoaksi.

Sedangkan-mengutip Aa Gym, jutaan guru dan orang tua hanya bisa diam dan geram karena tidak memiliki akses ke media massa untuk menyuarakan kecamannya terhadap pornografi dan pornoaksi.

Tapi, orang pintar dan berpengetahuan luas bisa juga kehilangan akal
sehat. Berkolaborasi dengan budaya Barat yang stereotip dan diskriminatif atau industri pornografi, misalnya, ada yang mengambinghitamkan Arab. Wow, betapa naifnya!

Rupanya, pendidikan saja tidak cukup. Hati dan pikiran pun harus sehat
dan waras. Inilah modal untuk duduk bersama dan berdialog yang konstruktif. (c35/Zam)

__________________________________________________________________

Kebutuhan dan polemik RUU APP

Mantan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Mien Sugandhi,
mendesak perlunya suatu UU yang mengatur pornografi dan
pornoaksi secara tegas. Ia memandang, media massa turut
mendorong merebaknya praktik pornografi dan pornoaksi yang
dampaknya mengancam moral generasi muda.

"Yang perlu dipahami bersama adalah perlunya suatu ketentuan
hukum yang tegas untuk menekan praktik pornografi dan
pornoaksi yang kian merajalela, bahkan mengancam moral
bangsa," kata Mien Sugandhi di Jakarta, bertepatan dengan
Peringatan Hari Perempuan se-Dunia, Rabu (8/3), seperti dikutip Antara.

Widyaswara Lemhannas itu membenarkan bahwa kecenderungan
pornografi dan pornoaksi di Tanah Air sudah sangat mengkhawatirkan. Namun, ia setuju, pembuatan UU tersebut jangan berdasarkan pada tataran pemikiran yang sempit agar tidak melunturkan rasa kebangsaan.

"Jangan menjadikan Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan
Pornoaksi (RUU APP) sebagai alat bagi sentimen kelompok semata.
Janganlah bereksperimen dengan nasib bangsa. Tetapi perlu juga
memahami kalau bangsa ini sangat memerlukan aturan tersebut,"
ujar Ketua Dewan Penasihat Partai MKGR itu.

Sumber: Republika - Kamis, 7 Maret 2006

Wednesday, March 08, 2006


Jose Mourinho menyaksikan sendiri bagaimana piawainya Ronaldinho memainkan bola, melewati tiga pemain Chelsea: Frank Lampard, John Terry, dan Carvalho, sebelum dengan jarak dekat menaklukkan kiper Peter Cech untuk membuat unggul Barca 1-0 atas Chelsea dalam pertandingan 16 besar Liga Champion, Rabu (8/3) WIB.. (bolanews.com)

Gw sebagai saksi mata dari salah satu talenta terbaik di dunia, bukan hiperbola but memang jago abis... tidak percuma begadang sampai pagi. Dengan skill individunya, Ronaldinho menunjukkan pembuktian buat kita semua bahwa dengan kombinasi skill dan sportivitas tinggi serta kerjasama tim tercipta seni olah bola yang super dashyat.

Sunday, March 05, 2006

Mourinho Diludahi Fans Barca by detiksport.com

Jakarta - Sambutan tidak menyenangkan diterima kubu Chelsea menjelang pertarungan keduanya melawan Barcelona di babak 16 besar Liga Champions. Baru tiba di bandara kota tim lawannya itu, Jose Mourinho diludahi fans.

Diterangkan pihak Chelsea dalam situs resminya, sekitar 50 orang pendukung El Barca menunggu kedatangan rombongan The Blues dari London hari Minggu (5/3/2006) waktu setempat.

Tidak ada gangguan berarti yang diterima Mourinho dan timnya begitu mendarat kecuali "sebatas" olok-olok verbal. Mereka pun dengan aman masuk bus yang akan membawanya ke hotel tempat menginap.

Namun sebelum bus berangkat, sekelompok fans itu masih terus meneriaki Joe Cole dkk dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Sengaja memakai earphone, Mourinho waktu itu tampak cuek.

Akan tetapi, meskipun suara ejekan mungkin tidak sampai ke telinga Mourinho, namun beberapa lontaran ludah mampir di kaca jendela busnya.

Kieren Startup, juru kamera Chelsea TV yang merekam kejadian tersebut, mengatakan: "Ada beberapa polisi yang bertugas dan mereka tampak tidak tertarik untuk menghentikan caci-maki orang-orang itu."

"Mereka melakukan intimidasi. Ada yang begitu agresif mengejek Mourinho dari awal, tapi ia tidak menghiraukannya. Lalu mereka mulai memperlihatkan gerak-gerik marah dan meludah," tambah sang kamerawan.

Chelsea akan bertanding di Nou Camp hari Selasa (7/3/2006) malam setelah kalah 1-2 di leg pertama di kandangnya sendiri dua minggu lalu.

Di Stamford Bridge Chelsea bermain dengan 10 pemain selama lebih dari 50 menit setelah bek kiri Asier del Horno dikartu merah karena melanggar dengan keras Lionel Messi. Dari insiden itu Mourinho menyebut Messi melakukan aksi teatrikal.

Pertarungan Barcelona vs Chelsea sudah merembet ke sisi politik, Jose Mourinho sudah menjadi musuh politik Barcelona dan fans, apakankah ini akan berlanjut hingga menjadi "trade mark " Sepak bola abad ini? kita tunggu saja...

Wednesday, March 01, 2006

Profil Roy Suryo, Tokoh paling kontroversial di Indonesia, mungkin ???


Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , hahahhhahhahahahha..........

* Nama: Roy Suryo PENIPU
* Lahir: Yogyakarta, 18 Juli 1968 MAISH HIDUP GAK
* Pendidikan:
o SMPN 5 Yogyakarta (ah, masa boonnnggg)
o SMAN 3 Yogyakarta (yang benar ah)
o MINTA BAYARAN KALAU NGOMONG
o MENJUAL KEBOHONGAN
o Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Ken Arok (1986)
o Magister Perilaku dan Promosi Pascasarjana Universitas Ken Dedes
* Karir:
o Dosen dan konsultan multimedia di UGM (diragukan)
o Dosen Honorer di ISI
o Tutor Diklat RCTI, TPI & Reguler di SAV Puskat & Mandiri (masa sih)
o Widyaiswara Sistem Informasi Diklat Depdagri & Deppen (apa nggak salah)
o Konsultan Internet & Video Teleconference Polda DIY (pantas main tangkap)
o Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Teknologi / BPTIY (karena ada hubungan darah dengan wagub kan, nepotisme nih)
o Pelawak
* Hobi:
o Melawak di televisi
o JUAL TAMPANG
o Melaporkan orang-orang yang tidak disukainya kepada polisi agar ditangkap

Sekarang beliau Sri Baginda Paduka Yang Mulia Roy Suryo sang penguasa Kerajaan Cyber Indonesia sedang membangun kekuatan yang dinamakan ANTI-BLOGGER INDONESIA di mana beliau duduk sebagai ketua merangkap anggota dengan tujuan melawan BLOGGER INDONESIA.

Referensi: situs Pantau (http://www.pantau.or.id/txt/15/08a.html), PDAT Tempo (http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/R/ads,20030630-100,R.html), Minggu Pagi Online